Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

Tuesday, August 23, 2011

Liburan ke Korea (2) - Rincian Biaya

TIKET PESAWAT & AIRPORT TAX
Air Asia menjadi transportasi udara favorit saya dalam kurun waktu tiga tahun belakang. Tertarik dengan promo termurah, tanpa pikir panjang saya langsung membeli tiket secara online.
Rincian harga adalah sebagai berikut:
1. Rute Medan – Kuala Lumpur seharga Rp. 164.000,-
2. Rute Kuala Lumpur – Incheon – Kuala Lumpur seharga RM 450, sekitar Rp. 1.350.000,- (sudah termasuk change seat fee agar bisa duduk berdekatan dengan teman seperjalanan, plus pemesanan meals)
3. Rute Kuala Lumpur – Medan : GRATIS! (memanfaatkan poin kartu kredit HSBC – Air Asia, yang dikonversikan menjadi voucher)
Ditambah biaya Airport Tax Bandara Polonia Medan sebesar Rp. 75.000,- maka total biaya seluruhnya adalah: Rp. 1.589.000,-
Biaya Airport Tax di LCCT Malaysia dan Incheon Korea sudah termasuk di dalam harga tiket pesawat.

Liburan ke Korea (1) - Intro & Itinerary

  • Korea sedang giat-giatnya mengkampanyekan pariwisatanya. Pemerintah Korea (baca: Korea Selatan) mencanangkan tahun 2010–2012 sebagai Visit Korea Years. Korea Tourism Organization (KTO) ditunjuk sebagai salah satu channel promosi. Dalam kurun waktu ini akan banyak ditemukan berbagai tur special dan event.

  • Di Bulan Agustus tahun 2010, Budget Airlines kebanggaan dan kesukaan saya Air Asia, membuka penawaran penerbangan perdana dari Kuala Lumpur ke Incheon. Sebenarnya Korea bukan termasuk Negara yang ingin saya kunjungi. Saya bukan penikmat K-Drama ataupun pemuja K-Pop (yang biasanya melatarbelakangi keinginan banyak orang untuk mengunjungi Korea). Motif awal berkunjung ke Korea adalah dikarenakan satu kata: MURAH! Korea itu MURAH? Bukannya banyak orang bilang kalau berlibur ke Korea itu mahal? Bahkan menjadi negara termahal kedua di Asia setelah Jepang, jika mengacu kepada mahalnya akomodasi dan biaya hidup sehari-hari. Ya, awalnya saya juga berpikiran demikian. Tapi setidaknya kata MURAH sudah saya dapatkan pada tiket pesawat. Untuk rute Medan – Kuala Lumpur – Incheon – Kuala Lumpur – Medan, saya hanya membayar sebesar Rp. 1.350.000,-

  • Secara keseluruhan, biaya yang saya habiskan untuk liburan selama 4 hari 3 malam adalah sekitar 3,8 Juta Rupiah. Biaya sudah termasuk transportasi (pesawat, airport tax, dalam kota di Seoul dan Nami Island), visa, penginapan, makan, dan souvenir. Murah? Bagi saya murah, saya sampai surprised sendiri. Bahkan travel writer yang menulis buku Rp. 3 Juta Keliling Korea dalam 9 Hari¸ Claudia Kaunang, sempat me-retweet ‘kicauan’ saya tentang biaya yang saya keluarkan ini. Mungkin untuk membuktikan sekaligus memotivasi ke para pembacanya agar jangan ragu-ragu untuk berlibur ke Korea!

  • Sebelum masuk ke rincian biaya, berikut itinerary yang sudah saya buat sebelum mengunjungi Korea.

Sunday, March 1, 2009

LIBURAN KE MACAU DAN HONG KONG (I)

5 FEBRUARI 2009 (JAKARTA-MACAU)

Akhirnya hari yang dinanti tiba juga. Meeting point dengan Dheva dan Andre di Plaza Semanggi. Jam 11 siang berangkat menuju Cengkareng. Ada hal yang sedikit mengejutkan, ternyata pengurusan bebas fiskal itu cepaaaaat bgt. Dalam hitungan detik saja, tinggal menyerahkan fotokopian NPWP, paspor, dan boarding pass, selesai… Nggak sesuai dugaan.

Oh ya, hari ini perjalanan menuju Macau menggunakan Viva Macau. Aku dan Dheva dapat harga tiket senilai MOP 1609 = Rp. 2,3 juta (booking di Januari), sementara Andre dapat setengah dari harga itu, karena sudah pesan di bulan Nopember. Sebenarnya Andre udah bilang di bulan Desember, tapi aku belum berani pesan tiket karena masih gambling… Kalo nggak dapat cuti gimana??? Hehe.. Viva Macau telat setengah jam waktu take off nya. Tapi waktu tiba tetap sesuai jadwal kok. Berangkat jam 13.50 WIB, tiba jam 18.50 waktu Macau (GMT +8). Lama penerbangan ± 4 jam. Karena baru pertama kali menggunakan Viva Macau, aku deskripsikan sedikit pengalaman terbang bersamanya. Pesawat yang digunakan adalah tipe 767-300 dengan formula kursi 2-3-2. Sehingga terkesan lapang, terlebih lagi penumpang cuma setengah dari kapasitas penuh. Kami lebih memilih duduk di belakang (seat 56 dari 66 row yang ada). Ada baiknya sebelum terbang, makan di bandara atau membawa makanan dari rumah. Karena harga makanan di sini tergolong mahal. Sandwich HKD 30, Croissant HKD 40, mie instant HKD 30, air mineral HKD 20, Ovaltine HKD 20, soft drink HKD 20, teh hangat HKD 10 (1 HKD = Rp. 1500,-). Stewardess? Dijamin cantik2 lah… Hehe…

Akhirnya sampai juga di Macau Aeroporto yang dulunya merupakan wilayah laut, kemudian ditimbun untuk dijadikan lahan bandara. Dari pesawat sudah kelihatan kerlap-kerlip lampu2 casino di Las Vegas nya Asia ini. Sampai di imigrasi, kita bisa melihat bahwa bahasa portugis masih digunakan sampai saat ini. Terbukti dengan adanya berbagai sign yang menggunakan bahasa setempat, bahasa Inggris, dan bahasa Portugis. Kelar dari urusan imigrasi, kita menuju North Car Park. Di sana kita menggunakan fasilitas free shuttle bus menuju Venetian Hotel & Resort. Inilah asyiknya di Macau. Berbagai Casino dan Hotel menyediakan shuttle bus gratis dengan tujuan agar memudahkan dan ‘menarik’ orang2 (baik visitor maupun penduduk lokal) untuk mengunjungi kasino2. Sebut saja seperti Venetian, Wynn, dan Sands. Padahal belum tentu juga dimanfaatkan untuk tujuan semestinya. Kadang ada juga yang memanfaatkan untuk keperluan lain. Dan meski gratis, bus nya super bersiiiihhhh… Dan mewah! Pelayanannya juga sangat memuaskan. Dari bandara ke Venetian Hotel cuma memerlukan waktu 5 menit saja. Selama perjalanan, mata dimanjakan dengan kerlipan lampu dan bangunan2 yg ada. Indah sekali, tidak salah kalau julukan Las Vegas nya Asia ditujukan ke Macau. Kekaguman masih terus berlanjut saat tiba di The Venetian (http://www.venetianmacao.com/). Di koridor lobi parkir maupun lobi hotel terhias berbagai lukisan eropa (Italia) dari abad pertengahan. Walau tidak secerah dan seindah lukisan asli, tapi cukup memanjakan mata. Mewah sekali.

Selagi Andre & Dheva melakukan proses check-in, aku sempat memotret sana-sini. Oh ya, rate satu malam di hotel ini yaitu HKD 2171 (non breakfast). Nilai segitu setaralah dengan keindahan yang diberikan. Dan thanks to Andre for making this come true… Elu baek bgt deh! Bayar segitu banyak hanya untuk kurang lebih 12 jam. Hahaha… Setelah check-in, kita menuju kamar. Tapi ampun, dari resepsionis menuju lift jauuuuuhhhh bgt. Untungnya kita melewati meja-meja peruntungan alias meja judi, jadi nggak gitu terasa capeknya.

Habis meletakkan barang2, kita keliling Venetian. Venetian ini selain berfungsi sebagai hotel & resort, juga satu compound dengan mall. Nah, malam ini kita manfaatkan untuk melihat2 sekitar, spt: Grand dan St. Luca Canal. Di sini kita bisa mencoba menaiki Gondola yg seperti di Venesia itu. Tentu saja dg sungai buatan. Tapi nahkoda Gondola nya didatangkan langsung dari Italia, dan Grand Canal ini dibuat seperti berada di Venesia. Gedung2nya, sungainya, bahkan ada langit di saat malam dan sore nya. Terasa hidup. Untuk tariff Gondola, sekitar 100 HKD. Tapi kita akhirnya mengurungkan niat naik Gondola. Masa mau beromantis ria dengan Andre dan Dheva? Hahaha… Kidding, bro!

Berjalan2 dan berfoto2 di Venetian nggak ingat waktu. Perut lapar, dan pilihan (lagi2) jatuh di McD. Nggak seperti di Thailand, di sini McD nya nggak ada menu Pork nya. Kalau di foodcourt nya, susah bener mencari makanan halal. Pasti ada aja makanan yg mengandung Pork. Ngiiikkkk… Ngiiiikkk… Hehe… Selesai urusan makan memakan, kami kembali menggunakan fasilitas free shuttle bus yang beroperasi sampai jam 2 dini hari. Kali ini destinasinya dari Venetian ke Sands. Kami melewati jembatan penghubung. Kalo Venetian juga merupakan wilayah laut yang ditimbun, Sands berada di wilayah Cina daratan. Setiba di Sands, keliling lagi melihat2 kasinonya, lebih luas dan bagus di Venetian. Tapi kalo disini aku sempat lihat para pejudi2 ulung seperti di film2 Hong Kong. Satu lagi yang menarik, air mineral disediakan secara percuma di sini. Kalau di Indonesia pasti langsung habis tuh stock nya. Hehe… Keluar dari Sands, kita menuju Fisherman’s Wharf, meski sudah banyak yang tutup, kita tetap melihat lebih dari dekat dan tentu saja berfoto. Hehe… Di sini banyak wahana permainan, dan juga miniatur tempat2 di seluruh penjuru dunia. Contohnya: Collosseum, tembok cina, istana kerajaan di Cina, dsb. Perjalanan kita teruskan ke Grand Lisboa dengan menggunakan bus (nggak susah kok mencari dan menggunakan bus di Macau, di halte banyak petunjuk yang mudah dipahami, tarif per orang sekitar HKD 3,2. Untuk rute dan tarif bisa dilihat di http://www.tcm.com.mo/). Di sini lebih bekerlap-kerlip lagi. Karena berdekatan juga dengan Wynn, MGM, dsb… dsb… Indah sekali malam di Macau. Sayang untuk tidak mengabadikannya melalui kamera. Kami pun balik ke hotel sekitar jam setengah dua dari Grand Lisboa berjalan kaki ke Sands, lalu pakai shuttle bus ke Venetian.

Sunday, February 15, 2009

Flashpacker

Ada istilah baru di dunia travelling... Kalau selama ini ada istilah backpacker, sekarang ada istilah flashpacker. Dulunya sih pengen menerapkan liburan a la backpacker, tapi makin lama kok makin nggak suit ya dg kenyataannya. Nah, pas ketemu dng istilah flashpacker, langsung bilang, 'oh ya, itu lebih sesuai dg aku'. :D Ini aku kutip dari situs http://flashpackerindonesia.wordpress.com, mengenai perbedaan flashpacker, backpacker, dan turis.

1. Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang memposisikan diri di tengah-tengah 2 ekstrem, yakni Backpacker dan Turis.

2. Perbedaan antara Flashpacker dengan Turis : Jika Turis adalah kaum penggemar jalan-jalan yang tidak mau repot-repot mengurus tetek bengek perjalanannya dan menyerahkan semuanya kepada biro perjalanan dengan konsekuensi harus terikat jadwal dan agenda tur yang kaku, maka Flashpacker lebih memilih untuk merencanakan jadwal dan agenda perjalanannya serta mengurus sendiri semua kebutuhan perjalanannya supaya dapat mendalami dan memahami suatu destinasi dengan lebih baik dan dalam waktu perjalanan yang lebih fleksibel.

3. Perbedaan antara Flashpacker dengan Backpacker : Jika Backpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang mencintai kebebasan waktu tetapi sangat berorientasi kepada anggaran (budget oriented), maka Flashpacker juga mencintai kebebasan waktu tetapi lebih berorientasi kepada pengalaman (experience oriented) serta lebih menghargai kemudahan dan kenyamanan (convenience & comfort) sehingga lebih fleksibel dan moderat dalam hal pengaturan anggaran.

Contoh : Jika memang berniat melihat matahari terbit di Bromo, maka sekalipun penginapan murah dan nyaman sudah penuh dan pilihan hanya tersisa hotel berbintang dengan harga kamar yang lebih mahal, maka Flashpacker biasanya tidak akan terlalu berkeberatan asalkan tujuannya menikmati matahari terbit dapat tercapai.

4. Sebagai kaum penggemar jalan-jalan yang berorientasi kepada pengalaman (experience oriented), maka biasanya Flashpacker bersikap sangat time conscious atau berusaha bijaksana dalam memanfaatkan waktu perjalanannya supaya tidak terbuang percuma untuk hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan perjalanan atau pengalaman yang hendak didapatkan, sekalipun berarti harus mengeluarkan dana ekstra.

Contoh : Daripada menempuh perjalanan puluhan jam dengan bis untuk mencapai suatu tempat sedangkan sebenarnya tersedia pesawat dengan masa tempuh hanya 1 - 2 jam, biasanya Flashpacker lebih cenderung memilih menghemat waktu dengan memakai pesawat saja walaupun berarti harus mengeluarkan dana yang lebih besar.

5. Walau menghargai kemudahan dan kenyamanan, tidak lantas berarti bahwa Flashpacker tidak dapat menolerir ketidaknyamanan sama sekali, selama ketidaknyamanan tersebut diperlukan atau tidak dapat dihindari untuk mendapatkan suatu pengalaman tertentu.

Contoh : Kalau memang niatnya hendak mencoba merasakan bagaimana berkemah di puncak gunung, maka sekalipun harus bergemetaran dalam balutan hawa dingin menusuk tulang sepanjang malam (jelas tidak nyaman), maka bagi Flashpacker itu hanyalah sekedar konsekuensi dari pengalaman yang hendak didapatkan dan mau tidak mau, suka tidak suka, tetap harus dijalani.

6. Perlu dibedakan arti kenyamanan (comfort) dengan kemewahan (luxury). Walaupun kemewahan selalu identik dengan kenyamanan, tetapi kenyamanan tidak serta merta identik dengan kemewahan. Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang menghargai kenyamanan, tetapi belum tentu selalu mencari kemewahan dalam setiap perjalanannya.

Contoh : Bagi seorang Flashpacker, berpergian tidak mutlak harus dengan full service airlines yang mahal apabila memang tersedia budget airlines dengan harga tiket terjangkau tetapi dengan interior kabin yang nyaman.

7. Kesimpulannya, Flashpacking adalah paham jalan-jalan yang memenuhi keempat karakter berikut :

a. Self Organized : Direncanakan dan diorganisir oleh para peserta sendiri

b. Experience Oriented : Berorientasi terhadap pengalaman atau tujuan perjalanan

c. Value Convenience & Comfort : Menghargai kemudahan dan kenyamanan

d. Time Conscious : Berusaha memanfaatkan waktu perjalanan dengan sebaik-baiknya

8. Secara profil, biasanya Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang memiliki pekerjaan tetap dengan tingkat penghasilan memadai (catatan : memadai tidak lantas berarti tinggi) tetapi memiliki waktu libur yang terbatas, sehingga berusaha memanfaatkan waktu perjalanannya dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan perjalanan yang berkesan atau memorable.

Monday, January 26, 2009

Phi Phi Island, Thailand

To Maya Bay Where We’ll Go

Hari yang dinanti2 tiba. Meski baru tidur sekitar jam 2 pagi, tapi kami tetap bersemangat bangun jam 6 pagi. Sesuai perjanjian, untuk menuju Rassada Harbor di Phuket Town, kita akan dijemput dari guest house sekitar jam stgh 8. Kemudian berangkat menuju Phi-phi Island Group sekitar jam 9. Oh ya, sekilas info tentang cruise yang kami gunakan yaitu Sea Angel Cruise. Jenis ini merupakan big boat dengan kapasitas 519 penumpang dengan kecepatan 20 Knot. Jadi dari Rassada Harbor menuju Phi-phi Island bisa ditempuh sekitar 1 jam 20 menit. Jika menggunakan big boat ini, harganya 1800 baht (harga di brosur). Tapi tenaaaang, setelah ditawar bisa menjadi 700 baht dari harga awal 1100 baht (kami membuang canoeing activity). Jauh lebih murah kan dari harga awal? J

Nah, kami akhirnya sampai ke Phi-phi Island. Sightseeing dulu di sekitaran Phi-phi, seperti di Viking Cave. Lalu tujuan selanjutnya Maya Bay!!!!!!! Sejak kemarin lirik lagu Pure Shores nya All Saints sudah berulang2 dilantunkan di dalam hati. Hehe…

Ive crossed the deserts for miles Swam water for time Searching places to find A piece of something to call mine (Im comin, Im comin) A piece of something to call mine (Im comin comin closer to you)

Im movin, Im comin

Can you hear what I hear?

Its calling you my dear out of reach

(TAKE ME TO MY BEACH!!!)

Kami di sini nyobain untuk snorkeling, airnya terasa sangat asin. Fasilitas gratis untuk snorkeling ada diberikan kok, seperti: Mask, Snorkel, dan Life Jacket. Kalo hilang bisa didenda 100 baht! Lumayan seru juga snorkeling selama 1 jam. Tapi kemudian aku agak kecewa karena ternyata kami tidak berjalan2 di tepi pantai Maya Bay, karena big boat ini tidak bisa menepi. Wah, batal jadinya niat untuk mengeksplorasi Maya Bay! Sewaktu searching dan bargaining tentang tur ini, aku tidak gitu mendengarkan sih, temanku yang bernego. Ternyata kalau pakai speed boat, keinginan untuk Maya Bay Exploration bisa menjadi kenyataan. Yah, walaupun siap2 aja mabuk laut, karena ombaknya saat itu kencang bgt!

Selesai dari Maya Bay, kami sightseeing lagi. Untuk yang ambil paket termasuk canoeing, mereka pindah boat (dalam perjalanan ini kita memang akan sering berpindah2 boat sesuai paket yang diambil, penandanya ada stiker yang ditempel di dada. Ada warna biru, oranye, dan Ungu. Kami diberi stiker Biru yang berarti tidak ambil canoeing). Karena kami nggak berminat canoeing, kami hanya bisa menyaksikan Monkey Beach dari kejauhan. Dan saatnya makan siang! Makan siangnya manteb! Ada nasi, dan terasa masakan melayunya. Aku cuma makan spaghetti aja. Lokasinya di Phi-phi Don yang pantainya juga bagus bgt! Pengen rasanya menceburkan diri lagi ke pantai. Tapi mengingat sempitnya waktu, akhirnya makan siang dan mandi… Lain kali, kalo ada rezeki lagi, pengen rasanya ambil paket 2 hari nginep di sini. Oh ya, di Phi-phi Don ada The Peak nya juga. Tapi sayang, aku nggak kepikiran ke sana. Mungkin karena pengen balik ke Maya Bay lagi. Hehe... Akhirnya kami harus kembali ke boat, dan tiba di Rassada Harbor sekitar jam 4 sore.. Kami minta diturunkan di Phuket Town Terminal Bus. Secara keseluruhan tur di Phi-phi Island ini mengesankan. Pariwisata di Thailand dengan segala kesiapan infrastruktur dan 'tim pariwisata' (pemerintah dan masyarakat) nya yang solid dan handal memang patut diacungi jempol. Bangsa kita harus banyak belajar.

Phuket, Thailand

PHUKET & KOH PHI_PHI, THAILAND

Sejak satu dekade yang lalu sudah takjub dengan salah satu heaven on earth, di mana sebuah pulau begitu indahnya, air laut yang begitu hijau dan jernih, pasir yang putih, karang batu yang berjejer dengan gagahnya, serta keindahan alam lainnya. Begitu setidaknya penginderaan yang aku rasakan melalui film The Beach produksi tahun 1998 yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio, Virginie LeDoyen, dan Tilda Swinton itu. Sudah menjadi impian suatu saat tempat itu akan menjadi salah satu destinasi liburanku.

Sepuluh tahun kemudian, di saat menjelang akhir tahun, ternyata muncul rencana untuk menyambut dan merayakan datangnya tahun baru 2009. Awalnya destinasi hanya sekedar singgah di Penang untuk kemudian menuju Hatyai, Thailand Selatan. Tapi rasanya kok sayang ya hanya sampai di Hatyai saja. Lagipula tidak ada new year eve party spot yang bagus di sana. Akhirnya aku cari informasi tentang lokasi wisata terdekat dengan Hatyai. Voila… Phuket! Saat surfing dari internet, aku menemukan blog tentang Koh Phi Phi! Blog demi blog aku baca, rasa antusias semakin meledak-ledak. Impian lama segera akan terwujud. Hehe…

Hari kedua liburan (31 Desember 2008), berangkat dari Hatyai menuju Phuket jam 20.30. Aku dan teman2 sengaja memilih untuk naik bus dengan alasan menghemat penginapan (liburan kali ini a la low budget backpacker… hehe…). Jadi dengan jarak tempuh sekitar 7 jam, bisa sampai Phuket di pagi hari. Awalnya sempat ‘merinding’ juga apa yakin nih pakai bus, terminal busnya aja jelek apalagi busnya. Hehe… Tapi setelah dirasakan langsung, ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti. Busnya bagus kok, nyaman… Meskipun kami menggunakan 2nd class bus (habis, nggak ngerti aksara Thai sih, jadi asal beli aja berdasar foto bus yang dipampang di loket… LOL). Oh ya, harga tiket bus Hatyai-Penang: 1st class (24 seats) = 536 THB (1 THB=Rp. 325,-), 1st class (36 seats) = 344 THB, dan 2nd class = 267 THB. Jadwal keberangkatan dimulai dari jam 05.30 sampai 21.45, rata2 tiap jam ada bus yang berangkat. Dan jangan khawatir, selain busnya yang memang nyaman dan aman, jalan menuju Phuket juga bagus kok. Juga aman dari kerusuhan di Thailand Selatan, karena pusat kerusuhannya di Yala, yang tidak dilalui dalam perjalanan ini. So, we started from Hatyai.-Phatthalung.-Trang-Krabi-Phang Nga then Phuket!

Selama perjalanan dimanfaatkan untuk tidur, dan akhirnya jam 03.00 kami sampai juga di terminal bus Phuket di Phuket Town. Sempat bingung juga pakai transportasi apa ke Patong Beach (kalo di Bali seperti Pantai Kuta nya). Sempat ditawarin sama supir taksi seharga 800 baht! Mahal bener… (belakangan aku baru tau kalau standarnya dari terminal bus Phuket ke Patong seharga 450 baht, ada tertera di sekitaran terminal kok infonya. Dan juga kalo sampai di Phuket Town pagi hari, bisa pakai bus rute Phuket Town-Patong dengan harga cuma 20 baht). Untungnya kita ketemu sama turis lain yang juga mau ke Patong. Awalnya aku kira ini pasti turis dari Hong Kong, ternyata dari Medan bos! Hahaha… Teman satu kampung ternyata. Namanya Ko Fredy, akan liburan juga sama istri dan keempat anaknya. Sudah puluhan kali berkunjung ke Phuket (good news dong since it’s our very first time to Phuket, hehe…). Saat ditanya kenapa sering ke Phuket, Ko Fredy menjawab,”Kalau ke Bali lebih mahal sih.” Setelah hitung2an dalam hati, ada betulnya juga. Oh ya, akhirnya kita rame2 sewa tuk-tuk ke Patong (450 baht). Untuk sampai ke Patong butuh sekitar 20 menit. Jalan yang dilalui berliku2 dan cenderung seperti menuju ke puncak (jadi ingat jalan ke Penatapan di Berastagi). Karena kami belum ada reservasi hotel (nekad!!! Tahun baruan pasti fully-booked!), Ko Fredy menawarkan untuk stay di Guest House langganannya. Ko Fredy ada sewa dua kamar, seharusnya satu kamar untuk anak-anaknya, yang akhirnya kami pakai (maaf ya adek2 J ….). Patong Rose Guest House namanya, per malamnya 700 baht. Namanya juga Guest House, yah jangan diharapkan fasilitas hotel berbintang. Tapi setidaknya ada AC dan hot water. (Coba http://www.sawadee.com/ untuk lihat2 hotel di Phuket dan kota lainnya di Thailand, reservasi melalui situs ini jauh lebih murah).

Sampai di Guest House sekitar jam 05.00, selama 2 jam digunakan untuk tidur. Terus karena aku udah antusias melihat pantai, jam 8 kita keluar keliling. Tapi Patong di jam segitu bagai kota mati, belum ada ‘peradaban’. Memble dah… Jam 10 baru aktivitas mulai hidup. Pantai menjadi berwarna-warni dengan adanya berbagai sunbathing tent. Salah satu surga dunia di Patong Beach kembali ramai.

Aktivitas hari ini selain menikmati pantai (meski cuma berjalan menyusuri indahnya pantai), juga belanja dan mengitari Bangla Road. Ya, jalan penuh kenikmatan (atau kenistaan? Hehe…). Berbagai pub, bar, massage girl, etc… etc… ada di sini. Bahkan para wanita/waria nya sudah dari siang2 hari menjajakan ‘barang dagangannya’ masing2, apalagi nanti malam pergantian tahun, pasti semakin menaikkan tarif deh mereka itu. Hehe.. Soal makanan, kita agak susah juga cari makanan yang halal. Bahkan di McD pun ada Terriyaki Pork Burger. Kalau mau cari makanan halal, coba di Jungceylon Mall aja, contohnya ada paket nasi di KFC. Atau beli jajanan sama penjual yang pakai jilbab, di Phuket juga banyak yang Muslim kok. Selain itu, aktivitas kami di hari ini ya ikut merayakan pergantian tahun di tepi pantai. Duduk di atas pepasiran putih sambil mencium bau alkohol yang merajalela. Melihat para turis lainnya yang membakar lampion2 terbang. Menurut kepercayaan setempat, jika lampion ini nantinya bisa terbang dengan sempurna, maka harapan kita akan terwujud di tahun baru. Dan langit pun semakin bercahaya dengan ratusan lampion yang diterbangkan. Ditambah pesta kembang api yang tak henti2nya dipancarkan dari jam 8 malam sampai pergantian tahun. Indah sekali malam itu, lumayan berkesan untuk kami.

Saturday, May 10, 2008

Liburan ke Batam dan Singapura (III)

Hari Ketiga (22 Maret 2008):

Pas mau mandi, ternyata harus ngantri. Malam kmrn ternyata sdh ada penghuni lain yg masuk. Alhasil, kita pun jadi lama keluar dr apartemen. Sekitar jam 10.30 kita check-out dan menuntaskan rasa penasaran utk membeli souvenir yg blm jd dibeli semlm. Lagi2 belanja... Dang!

Tujuan berikutnya menuju Quality Hotel (4 star) di Balestier Rd. Kebetulan pas di Medan ditawarin stay di hotel ini. Beruntung kita dpt rate yg murah. Sehrsnya utk satu kamar sebesar SGD 250, tp dg harga segitu kita bisa dpt dua kamar. Hotelnya bersih, tapi aku merasa pelayanannya agak kurang bagus. Dan stafnya juga kurang ramah. Utk menuju Balestier Rd, kita menuju Novena MRT Station. Stlh sampai, ternyata dari stasiun MRT agak jauh ke hotel. Sebenarnya bisa naik bus sih, tp bhb blm ‘mahir’ naik bus, kita pakai taksi aja (SGD 3,40).

Stlh selesai urusan hotel, kita atur rencana hari ini. Tujuan berikutnya ke Little India, apalg kalo bukan buat belanja. Kakak dan adikku memang tujuannya belanja sih. Kalo aku cuma ngasih guide dan ikutan aja. Kita pakai taksi lagi. Sebenarnya dr hotel ada menyediakan shuttle bus ke Paragon di Orchard Rd, tp krn hari Sabtu service itu tdk ada. Kita pun menggunakan taksi dan turun di Mustafa Center. Ternyata ada miss, aku turun di Mustafa Center dan abangku turun di Little India MRT Station. Akhirnya kita saling tunggu2an. Bukan salahku juga kalo turun di Mustafa Center, kan masih di Little India juga. Hehe... Sambil menunggu mereka datang, foto2an dulu lah ya... Hihi... Oh ya, Mustafa Center ini buka 24 jam setiap hari. Di sini bnyk menjual parfum dan barang2 elektronik. Kalo jeli, bisa dapat barang elektronik dg hrg murah dan dg mutu yg terjamin.

Siang ini dihabiskan dg belanja2 lagi. Bnyk juga item 3 for 10. Malah aku beli wallscroll yg seharusnya 3 for 10 juga tapi aku beli dg harga SGD 1 for each! Kakakku jadi ‘sirik’ sndiri, krn seblmnya dia beli di Lucky Plaza 3 for 10. Hihi... Sepanjang siang, masuk dr toko yg satu ke toko yg lain. Sosok org India yg item2 selalu dijumpai di sini, sekaligus menghirup bumbu makanan khas India yg menusuk hidung sampai ke anatomi tubuh bagian dalam. Hehe.. Kebetulan aku nggak begitu suka dg makanan khas India, jadi pusing sndiri. Drpd pusing, mending foto-an lagi. Alah... Di daerah ini ada juga kuil2 dan mesjid2. Kuil yg di foto sblh ini sejenak mengingatkan akan kuil yg ada di Kampung Keling di Medan.

Setelah mereka puas belanja, akhirnya mereka ingat makan juga. Cari makanan yg non India, malah ngga ketemu. Sampe masuk ke mall yg ada foodcourt nya pun masih nggak selera. Akhirnya kita ‘terdampar’ di Golden Wall Mall. Dr luar gedung, udah kelihatan ada Kopi Tiam. Lgs masuk ke sana, dan kita akhirnya lunch di ABC Express. Lagi2 pesanannya makanan Indonesia. Aku lupa pesan apa, tp yg pasti ayam di Singapura besar2 bgt.

Lumayan kenyang! Mgkn krn kebanyakan makan, Dheaz (ponakanku) tiba2 minta pulang ke hotel. Ternyata mau pup... Hehe.. Rencana pun berubah.

Aku, Dheaz, dan abangku balik ke hotel. Sementara Kak Jenny, Devi, dan Kak Eja meneruskan perjuangan mereka belanja. Pdhal aku juga pengen ikut (bukan utk belanja) melihat2 di Little India Arcade, Bugis St, dan Arab St.

Sampai di hotel, rehat sejenak. Well, and we have a bad luck. It’s pouring rain outhere. Drpd menyesali keadaan, it’s time to have a fitness session! Lumayan bermanfaat utk membakar kalori akibat makanan enak! Habis fitnes, giliran renang. Asiknya nggak ada orang. Ya gmn nggak ada orang, kalo saat itu lagi hujan lebat. Akunya aja yg udik pengen renang. Hehe... Habis renang, giliran ber-sauna. Segar!

Lumayan lama juga hujannya reda. Jadinya kita agak lama kembali jalan. Pdhal mau ikut city sightseeing (CS). CS ini menggunakan bus spt gambar, biaya SGD 23 utk org dewasa dan SGD 13 utk anak berumur 3-12 thn. Kita bebas memilih waktunya (antara jam 9 pagi sampai 10 malam). Tujuan wisatanya juga bermacam2, 4 hari wisata di pagi hari dan 4 wisata di malam hari. Jadi kita bebas memilih, mau ke Merlion Park, Esplanade, dan lainnya. Kita akhirnya mutusin utk jalan2 scr mandiri aja. Tujuannya adl ke Merlion Park. Dr Novena MRT Station kita menuju City Hall MRT Station. Utk sampai ke City Hall MRT Station, kita turun di Dhoby Gaut MRT Station sbg tempat pemberhentian krn jalur ke City Hall yg di East West berbeda dgn jalur Novena yg di jalur North South. Turun di City Hall, kita terhubung lagi dg pusat perbelanjaan. Kita ke Suntec City. Sbnrnya aku pengen lihat taman air yg katanya bisa bawa hoki dg menjalankan ritual tertentu. Tp payah nih Kak Eja buru2 terus, nggak konsen ke suatu tempat. Akhirnya malah terlewat! Agak kesal jg.

Dr Suntec kita menuju Esplanade, kita dipandu sama cewek lokal ras Melayu. Lmyn capek juga jalan menuju Esplanade. Esplanade theater alias Teater Durian krn atapnya spt duri (apalg kalo di lihat di mlm hari). Di tempat ini bnyk pertunjukan2 kelas dunia diadakan. Pengen juga sesekali lht pertunjukan itu. Oh ya, kalo nggak salah Chris Botti akan mengadakan show di sini Mei nanti. Hooraaayy...! Krn mlm, jd agak krg jelas ya Esplanade yg terlihat di gambar. Esplanade ini terletak dekat dg Merlion Park. Sepanjang jalan kita juga bisa melihat landmark2 lainnya spt Fullerton Hotel dan Singapore flyer. Menikmati perjalanan sambil menikmati es potong terasa enjoy bgt!

Mumpung di Merlion Park, kita foto2 keluarga dulu. Hehe..

Next, aku ngusulin utk menikmati sungai di Singapura. Kita naik boat non diesel utk mengarungi sungai. Ada bbrp paket Singapore River Cruise, harga utk org dewasa dan anak2 sama saja, sebesar SGD 13 sampai ke River Point. Kami sbnrnya cuma minta sampai ke Clarke Quay aja, tp malah sampai ke River Point. Sbnrnya untung sih, dg membayar SGD 6 (hrg utk ke Clarke Quay) kami malah menikmati sampai ke River Point. Hehe...

Sepanjang perjalanan, kita bisa melihat berbagai macam keindahan sungai dan berbagai macam gedung yg menjulang tinggi dan ada juga bbrp yg memiliki histori tersendiri. Kita juga bisa melihat di tepi sungai ada

tempat2 makan yg menyerupai bentuk boat di Clarke Quay. Romantis juga tempatnya. Benar-benar suasana yg menyenangkan dan tempat yg indah.

Sesampai di River Point, kami berjalan menyusuri keindahan malam sepanjang sungai. Kami juga melihat atraksi RC Kites yg bentuknya menyerupai kupu-kupu dan kunang-kunang. RC Kites ini dikendalikan oleh remote control. Mengeluarkan cahaya. Menambah keindahan pemandangan. Harganya jutaan rupiah!

Puas berjalan2 di sekitar Clarke Quay (yg keindahannya membuat jd ngga berminat dg makan malam. Hehe..), kita memutuskan balik ke hotel. Aku pengen nonton film di Shaw Plaza, tp bhb yg lain nggak berminat, aku juga nggak jd pergi. Pulang ke hotel sektr pukul 12 malam, kali ini nyobain naik bus. Then, the rest is take a deep sleeping!

Sebenarnya masih bnyk destinasi yg mau dituju, spt: Carlsberg Tower, True Merlion, Fort Siloso dll di Sentosa Island, Singapore flyer, Night Safari, dan lainnya. Tapi yah krn wktnya juga terbatas, apa yg sdh dinikmati yah disyukuri. Kalo ada kesempatan lagi, mgkn akan beda lagi destinasinya.

Hari Keempat (23 Maret 2008):

Then, we must say sayonara to the Uniquely Singapore City! Stlh sarapan, langsung menuju Harbourfront. Ferry brngkt jam 09.30. Sampai di Batam menyempatkan diri utk beli kaos Converse dan krn hr ini birthday nya Dheaz, aku beli scooter juga. Lupa tukar SGD di Harbourfront, katanya kalo ditukar di sana bisa lebih tinggi hingga 200 poin!

Dan akhirnya balik ke Medan juga menggunakan Mandala Airlines jam 13.25. Capek tp menyenangkan.

It’s time for me to sign-out. Cheers!

Sunday, April 20, 2008

Liburan ke Singapura via Batam (II)

Hari Kedua (21 Maret 2008)
Masih kurang puas dengan jumlah coklat yang dibeli, hari ini masih menuju Kawi Jaya lagi. Sekalian melihat-lihat berbagai macam barang di Nagoya Business Center. Ada tas, sepatu, dompet, dan lainnya dengan berbagai macam merk internasional. Harga di sini bisa ditawar dan harus jeli untuk membedakan kualitas produk. Karena ada juga yang menjual produk asli tapi palsu. Nah, ujung-ujungnya beli parfum lagi Boss Element.
Sebelum ke Batam Center, kami singgah dulu di rumah teman abang untuk menitip barang-barang. Tujuannya agar setiba di Singapura, bisa langsung pakai MRT yang hanya membolehkan penumpang membawa dua koper saja, itu pun dilihat dari ukurannya.
Bhb sudah check-in dihari sebelumnya, jadi kami tidak terlalu terburu-buru. Beli makanan kecil dan air minum dulu untuk di ferry. Dan bhb pasporku dan adikku keluaran Medan, diwajibkan membayar fiskal per orangnya sebesar 500rb rupiah. Sementara saudaraku yang lain punya paspor non Medan. Beruntunglah yang punya paspor keluaran Kep. Riau, Sumsel, dan Sumbar yang tidak terkena biaya fiskal. Mengenai tempat pembayaran fiskal mudah dicari kok, karena ada tertera jelas tulisan FISKAL di samping loket pembayarannya. Letak loket ini di lantai 1, kalau masuk dari pintu utama Batam Center, langsung ke sebelah kiri. Sementara kalau di sebelah kanan, terdapat loket-loket penjualan berbagai jasa ferry.
Berbicara tentang fiskal, aku jadi teringat dengan sopir taksi di Batam yang menawarkan kami dalam pengurusan fiskal dengan harga yang lebih murah (350rb!). Syaratnya, min. penumpang yang akan berangkat berjumlah 5 orang. Aku sih nggak tergiur, cari aman aja, lagipula kan biaya fiskal digunakan untuk pembangunan negara (nasionalis kali aku ya... hihi...).
Untuk menuju ferry, naik ke lantai 2 dan di sebelah kiri sudah ada petugas yang memeriksa penumpang dan barang bawaannyaIkuti saja jalan di depan, dan sampai ke petugas imigrasi. Setelah duduk selama 10 menit, gate dibuka tanda diizinkannya naik ke ferry. Kami memilih duduk di kabin bawah yang ber-AC. Saran, pilih tempat duduk di depan agar meminimalisir efek guncangan ombak selama perjalanan. Lagipula, tempat duduk di depan lebih bagus dan space-nya lebih luas dan cocok bagi yang bepergian dengan keluarga. Setelah satu jam, akhirnya sampai di Singapura. Sebelum tiba di Harbourfront, kita bisa melihat Sentosa Island (ada berbagai resort yang indah, the true Merlion, cable car, Singapore flyer, cruise mewah yang sedang menepi, dan lainnya). Begitu sampai di Harbourfront, kita langsung menuju petugas imigrasi. Ada dua jalur di sini, yaitu jalur untuk warga negara Singapura, dan All Passport jalur untuk semua warga negara non Singapura. Di sini langsung bisa terasa suasana tertibnya. Cuma ibu-ibu turis warga Jepang di belakangku yang agak menyebalkan. Begitu keluar dari bagian imigrasi, kita sudah disambut dengan ramainya suasana Harbourfront. Kebetulan Harbourfront ini juga menyatu dengan mal baru, Vivo City. Jadi hampir mirip dengan Batam Center lah, cuma lebih megah yang ini. Selanjutnya kita pilih transpor MRT menuju ke Orchard Road. Tidak susah kok mencari stasiun MRT nya, berbagai sign memudahkan kita untuk mencarinya (jangan takut tersesat di Singapura, semuanya jelas dan mudah dengan adanya berbagai penunjuk jalan). Kalau udah tersesat betul, silahkan mencari taksi. Hehe.. Kalau ada banyak barang bawaan, bisa juga mencari taksi yang tarif buka pintu rata2 sebesar SGD 2,5. Atau bisa juga menggunakan bus. Atau kalau mau langsung ke Sentosa Island, bisa menggunakan Sentosa Express yang tarifnya SGD 9,9 (one way) atau 10,9 (return trip) utk adult dan SGD 4,5 (one way) atau SGD 5,5 (return trip) utk children. Saran, silahkan beli Ez-Link Card karena lebih praktis dan jauh lebih hemat. Kartu ini bisa digunakan utk sarana transportasi MRT maupun bus. Sayangnya aku nggak beli krn saran sesat dr sso (bad luck...). Tarif MRT paling mahal sebesar SGD 1,80 . Nah, kita langsung menuju Orchard Road. Bhb tdk ada rencana sebelumnya utk ke Singapura hari ini, kita harus mencari-cari tempat penginapan terlebih dahulu. Aku sih sebenarnya pengen di Summer Tavern Hostel karena tepat berada di depan Clarke Quay MRT Station. Sehingga transportasi jadi lebih gampang dan bisa menikmati keindahan Clarke Quay setiap saat. Di sini kita bisa sewa per bed sebesar SGD 35, bisa juga sewa per room sebesar SGD 70. Dan karena bawa anak kecil dan bersama keluarga, aku rasa tempat ini tidak terlalu sesuai. Meski demikian, next time aku rencana pengen coba Hostel ini. Info lebih lanjut: http://www.summertavern.com/. Akhirnya kami sepakat untuk stay di Lucky Plaza Apartment krn hotel-hotel di Singapura banyak yg full. Bahkan di Lucky Plaza sendiri susah bener cari kamar yang kosong. Ada saran stay di distrik Geylang. Memang sih di sana banyak hotel berbintang dengan tarif yang murah (berkisar SGD 60), tp daerah ini adl daerah malamnya Singapura, redlight district istilah kerennya. Atau setara dengan Mangga Besar di Jakarta atau Nibung di Medan. Oh ya, untuk mencapai Lucky Plaza, setelah keluar dr Orchard MRT Station, you may turn to the right side. Letaknya tepat di depan Wisma Atria. Kalau susah mencarinya, lagi2 penunjuk jalan mudah ditemukan dan sangat membantu. Begitu sampai di dalam Lucky Plaza, naik ke lantai 2 menggunakan lift atau tangga berduri (istilah penduduk Singapura utk elevator) atau tangga manual. Di sini ada empat lift yang menuju tempat berbeda. Agar jgn tersesat, setelah naik ke lantai 2, cari tanda Exit. Nah, di situlah letak lift menuju apartemennya. Aku sempat salah lift dan muter2 plaza jadinya. Beruntung aku ada bawa nomor pemilik apartemen. Jadinya bisa langsung deal sewa kamar. Pemiliknya orang Indonesia yang tinggal di Jakarta. Di sana aku menemui pembantunya yang juga asal Indonesia. Sebenarnya apartemen di Lucky Plaza ini pun banyak disewa turis asal Indonesia juga, jadi banyak ketemu sesama orang Indonesia di sini. Mengenai tarif sewa kamar, kami dapat kamar yang ada tiga bed, seharga SGD 120. Sementara untuk satu kamar yang single atau double bed dipatok seharga SGD 75 utk week-end dan SGD 60 utk hr biasa. Oh ya, di dalam apartemen ada beberapa bilik/kamar, jadi dalam satu apartemen kita share dengan penyewa lain. Dan juga kami kebagian apartemen yang kecil. Beruntung malam itu, kami penyewa tunggal. Mengenai fasilitas, di dalam apartemen ada pantry, kamar mandi dengan heater, dapur (kompor gas, kulkas, bak cuci, dll), dan washing machine. Dan yang terpenting, semua dalam keadaan siap pakai dan bersih! Sebagai info (bukan promosi), ini ada beberapa nomor yang bisa dihubungi jika suatu saat ada rencana stay di sini. Bisa juga sistem booking, dengan memakai panjar yang dibayar melalui transfer rekening bank. May this number can provide you further information: +65 6736-1306 (Mdm. Soh) atau Lena (0811693088, +6597371587), atau Wira (08126108565). Di Singapura, maghrib sekitar jam 19.30. Makanya kami baru makan malam jam 20.30. Giliran cari makan nih. Aku ngasih saran makan malam di Lucky Plaza aja. Memang tidak susah kok cari makan malam di sini. Mau cari makanan apa pun, ada di foodcourt lantai 1. Mengenai harga, berkisar SGD 3,5 sampai ke SGD 5 belum termasuk minum (soft drink berkisar SGD 1,2). Habis makan, belanja souvenir di lantai yang sama. Rata2 dijual dg harga 3 for SGD 10. Kualitas barang bagus2, malah untuk bbrp item lebih mahal di Kuala Lumpur. Item2 nya pun variatif dan menggoda utk dibeli. Alhasil, kami betah hampir satu jam lamanya. Setelah itu, jalan2 sepanjang Orchard Road yang penuh dg shopping center. Siapa sih yang tdk betah berada di sini. Menikmati malam dg mencuci mata, baik produk maupun orang2 yg berkeliaran (hehe..). Shop til you drop, memang berlaku di sini. Kalau capek, silahkan melepas lelah dan menikmati es potong yang buat segar kembali sambil duduk di taman. Plus sambil memandang orang2 yg sdg bermesraan (lha... haha...). Oh iya, kita sempat juga masuk ke House of Condom. Tau nih kalo udah lht yg beginian, badan serasa di-remote tdk terkendali langsung masuk. Haha... Akhirnya semua ikutan masuk, pdhal ada larangan anak di bawah 18 tahun dilarang masuk. Hihi...

Liburan ke Singapura via Batam (I)

Libur nasional tanggal 20 Maret 2008 (Maulid Nabi Muhammad SAW) dan tanggal 21 Maret 2008 (Kenaikan Isa Al-Masih), disambut dengan hari Sabtu dan Minggu, membuat hari libur menjadi panjang. Di awal tahun memang sudah direncanakan untuk liburan ke suatu tempat. Terlebih lagi karena tahun ini aku belum bisa dapat izin cuti dikarenakan belum genap satu tahun bekerja di perusahaan yang baru. Jadi moment ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Awalnya aku pengen buat suatu tulisan di blog tentang liburan dengan low budget, tapi niat itu harus dibatalkan nih. Bhb liburan bareng keluarga, jadi ya kecil kemungkinan bisa libur dengan dana seminim mungkin. Maybe next time aja kalo liburan bareng teman-teman ala backpacker. Tujuan ingin menulis low budget travel karena pd dsrnya aku suka jalan-jalan. Nah, dengan menggunakan dana seminim mungkin, kan sisa dananya bisa digunakan untuk jalan ke tempat-tempat lain (ini krn pelit bukan ya? Hehe...). Tapi yang paling penting, euphoria akan muncul kalo bisa survive di negeri atau lokasi asing dengan mengeluarkan dana seminimal mungkin. Tapi sekali lagi, cerita ini nggak jadi cerita tentang low budget travel ya. Buat yang cari info tentang estimasi biaya dan rute perjalanan ke Singapura via Batam, semoga tulisan ini bisa membantu memberi sedikit informasi yang berguna.
Hari Pertama (20 Maret 2008):

Dari Medan aku berangkat dengan menggunakan Mandala Airlines melalui Bandara Polonia Jam 11.50 WIB. Aku cukup beruntung bisa dapat harga tiket yang murah. Kebetulan ada promo Buy 1 Get 1 dari Mandala untuk rute Medan-Batam (pembelian di akhir Januari 2008, cuma tiga hari!). Begitu baca infonya, aku langsung beli tiket secara online di http://www.mandalaair.com/. Lumayan bisa menghemat. Harusnya tiket PP untuk 2 orang senilai 1,65 juta rupiah. Tapi berkat promo ini, aku bisa menghemat lima ratus ribu rupiah. Kalau dikalkulasi, utk one way per orang sekitar 280-an ribu. Perjalanan menuju Batam ditempuh selama kurang lebih satu jam. Begitu sampai, langsung cari info tentang penukaran tiket ferry gratis menuju Singapura. Mandala Airlines juga lagi ada promo tiket PP gratis dengan menggunakan ferry menuju Singapura. Yang berarti, aku dapat banyak keuntungan dari Mandala Airlines dalam perjalanan ini (hehe..). Untuk penukaran tiket ferry harus dilakukan di Singapore Tourism Board counter di Batam Center. Sebelum ke sana, aku cari info tentang hotel di Batam. Sebenarnya, abangku ada voucher gratis menginap di Planet Holiday Hotel (5 star). Sayangnya voucher tersebut tidak berlaku di hari libur panjang seperti ini. Akhirnya tetap menginap di hotel tersebut dengan menggunakan biaya sendiri. Karena ada enam orang, kami menyewa dua kamar connecting-deluxe room. Rate kamar per malamnya 600rb, tp bhb beli voucher di Hang Nadim, bisa lebih murah 90rb. Enak sih hotelnya, dari kamar di lantai 11 (kami nginap di kamar 1126 dan 1128), sudah bisa kelihatan bangunan-bangunan pencakar langit di Singapura. Fasilitasnya juga bagus, desain interiornya juga indah, dan ada fasilitas shuttle bus ke Mega Mall. Mega Mall ini terletak persis di depan Batam Center. Oh ya bicara tentang Batam, begitu keluar dari Bandara, aku langsung teringat dengan kota Penang. Baik bandara dan jalan raya nya mirip betul dengan Bandara Bayan Lepas di Penang. Sejenak serasa di Penang. Taksinya juga mirip. Bedanya kalo di Batam tidak perlu membeli voucher taksi, cukup mencari taksi kosong sesuai dengan jalur antriannya. Biaya taksi dari Bandara sudah dipatok berdasarkan tujuan. Buat yang mau langsung ke Batam Center, tarif taksi sebesar 70rb. Begitu juga dari Batam Center ke bandara sebesar 70rb. Tapi uniknya, di Batam tidak ada kendaraan umum selain taksi dan ojek (berdasarkan temuanku nih ya...). Kalo jalan2 di dalam kota juga dipatok berdasarkan penumpang, biasanya kalo jalan satu penumpang dihitung 7rb. Tapi kalo banyak penumpang, bisa ditawar lagi pakai harga borongan. Setelah istirahat sebentar di hotel, kami menuju Batam Center untuk menukarkan boarding pass Mandala dengan tiket ferry. Bhb tiket Penguin Express habis, maka kami kebagian jatah Batam Fast. Sblmnya aku prnh baca info dr internet, kalo Penguin Express lebih bagus dari Batam Fast. Alasannya krn kapalnya lebih baru, lbh besar, dan jam keberangkatan hampir setiap jam. Tapi Batam Fast nggak kalah jauh kok. Malah kalo dari tampilan fisik luar, ferry Batam Fast lbh menarik dibandingkan dgn Penguin Express. Stlh dpt tiket gratis, kami langsung check-in untuk keberangkatan esok harinya. Biaya utk tiket PP ferry sebesar SGD 20, berarti hemat SGD 120 utk 6 orang. Nah, untuk seaport tax dari Batam ke Singapura per orangnya dikenakan SGD 7. Sejak akhir Januari 2008, pajaknya naik dua kali lipat dari sebelumnya yang cuma SGD 3! Kabarnya kenaikan ini dikarenakan seaport tax di pelabuhan Singapura juga naik dari SGD 10 menjadi SGD 16. Wah... Yang perlu dicatat, kita bisa beli tiket PP dengan keberangkatan kapan saja karena tiketnya bersifat open ticket. Dan usahakan agar check-in paling lama 30 menit sebelum waktu keberangkatan.

Setelah selesai dengan urusan tiket, kami makan siang menjelang sore (karena udah hampir jam 4). Dari Batam Center ada jalan penghubung ke Mega Mall (langsung ke lantai dua nya). Makan siang di Solaria (nggak di Medan, di Jakarta, di Batam kenapa kok selalu makan di sini ya? Soalnya porsi besar sih! Hehe..). Tapi nggak apalah, karena bisa memandang balon udara dan turis mancanegara ber-parasailing ria. Bagus betul pemandangannya. Setelah itu jalan-jalan bentar mengelilingi Mega Mall. Bhb uang masih berbentuk rupiah, kami menukarkan ke SGD di Mall ini. Saran nih, kalo mau menukarkan rupiah, di sinilah tempat yang aku sarankan. Sebagai komparasi, sewaktu di Hang Nadim, aku sempat tanya harga beli SGD. Beda lebih dari 100 poin! Kalau di Hang Nadim 1 SGD=Rp. 6.780,- , di Mega Mall bisa dapat Rp.6.675,- plus bisa ditawar! Akhirnya aku dapat harga Rp. 6.650,-. Nama tempat penukarannya aku lupa (mgkn Banda Mas). Tapi lokasinya di lantai 1, di depan outlet Levi’s, dan ada toko emasnya. Bhb ada titipan, tujuan berikutnya adalah Nagoya Hill Mall. Di sini tujuannya untuk beli parfum. Kebetulan teman abangku yg domisili di Batam sdh berlangganan di toko ini (Becca Boutique), harganya jadi makin murah. Bvlgari Pour Homme dibandrol 250rb, Escada Sentiment 270 rb, dan Echo Davidoff for Woman 250rb. Selain beli parfum, ada beli kaos juga. Kaos berlogo Singapura dengan jahitan timbul. Spy tdk repot beli di Singapura, akhirnya kakak dan adikku beli bbrp kaos. Kalau dibandingkan dengan harga di Singapura sendiri, nggak jauh beda kok. Tidak lengkap kalau ke Batam jika tidak membeli coklat. Tujuan berikutnya adalah ke Kawi Jaya yang terletak di perempatan di kawasan Nagoya Business Center. Harga coklat di sini lebih murah drpd tempat-tempat lain. Selain coklat, ada juga souvenir dari negara tetangga seperti Singapura tentunya, Malaysia, dan Thailand. Harganya juga hampir setara dengan harga jual kalau kita beli di Singapura kok. Sebagai penggemar makanan, tentunya aku pun memborong berbagai jenis coklat dan kacang. Sebagai penutup malam itu, kami makan di warung seafood. Aku kebetulan tidak terlalu lapar, sehingga hanya pesan satu porsi kerang rebus. Unik, kerang di Batam kecil-kecil dan tertutup semua, sambalnya juga bukan seperti di Medan yang terbuat dari nenas parut dan bumbu kacang. Kerang rebus Medan masih yang paling mantab!